Kamis, 26 Maret 2015

PENGALAMAN PRAKERIN DI PT.KAI 
DAOP 5 PURWOKERTO
The first,let me introduce my self :
Nama : Marine Candra Sakti
Kelas : XI-TKJ 1
Asal Sekolah : SMK Kesatrian Purwokerto 
Tempat PRAKERIN : PT.KAI(PERSERO),DAOP 5 PURWOKERTO
Dibawah ini adalah seputar cerita singkat pengalaman saya selama dalam masa PRAKERIN ,dimulai dari awal sebelum keberangkatan dan diakhiri hingga selesai :

Pada Hari Senin,tanggal 12 Januari 2015,
Adalah pertama saya memulai kegiatan Prakerin,yang diawali dengan apel keberangkatan PRAKRIN di bengkel otomotif SMK Kesatrian Purwokerto ,pada apel pemberangkatan tersebut seluruh siswa peserta PRAKERIN diberi seputar pengetahuan ,nasehat dan berbagi cerita tentang kakak kelas kami yang dulu pernah prakerin,lalu kami diberi teknis bagaimana mengisi journal harian dan pemberitahua bahwa Modul pembelajaran akan rampung ketika kami sudah prakerin kurang lebih selama 2 minggu lamanya,setelah apel selesai saya dan teman saya yang satu industri dengan saya menemui guru pembimbing( Ibu Sapta meylina) kami untuk mengambil journal harian ,lalu kami diantarkan ke tempat industri dimana kami akan prakerin disana ,tepatnya di PT.KAI(PERSERO) DAOP 5 PURWOKERTO JL.Jend.Soedirman 209 Purwokerto,sesampainya disana guru pembimbing kami menyerahkan/menitipkan kami pada pihak PT.KAI,disana kami ditempatkan di Unit IT.
Hari pertama kami belum beradaptasi dengan lingkungan sehingga maasih terasa malu dengan staff  Kantor
dimana kami prakerin,dan pada hari pertama itu kami diajak ke Stasiun Purwokerto untuk melakukan program bulanan ,yaitu perawatan CCTV dan beberapa perangkat inventaris unit IT,menangani melakukan perawatan CCTV adalah hal baru yang kami dapatkan dan tidak kami dapatkan di sekolah ,hari demi hari kami lalui tidak terasa,rasa malu kami/saya hilang dan mulai beradaptasi dengan lingkungan instansi tersebut,dan mulai menjalin keakraban dengan staff disana,dan disana saya tidak hanya diajarkan bagaimana cara menangani trouble jaringan,menggulung kabel yang benar,perbaikan PC,ataupun hal seputar dunia IT PT.KAI,tetapi disana saya mendapatkatkan arti keluarga bersama dengan  Managernya(Bpk maman sumaryo,S.Kom),Assisten Manager dan beserta staffnya juga ,2 bulan yang kami/saya alami/lalui selama prakerin  bersama rekan kami dari sekolah SMK N1 Purbalingga bejalan sangat cepat,meskipun masa-masa itu berjalan dengan cepat namun bagi saya pribadi pengalaman itu merupakan kenangan indah bersama mereka semua yang sudah saya anggap seperti kakak,teman,dan panutan buat saya agar bisa menjadi mereka.Pengalam tersebut adalah kenangan indah yang tidak pernah bisa saya lupakan sepanjang hidup saya.
Sekian cerita singkat saya selama dalam masa prakerin di tempat saya prakerin,


Senin, 27 Januari 2014

Belajar Karate

Karate (空 手 道)

Karate adalah seni bela diri yang berasal dari Jepang. Seni bela diri karate dibawa masuk ke Jepang lewat Okinawa. Seni bela diri ini pertama kali disebut "Tote” yang berarti seperti “Tangan China”. Waktu karate masuk ke Jepang, nasionalisme Jepang pada saat itu sedang tinggi-tingginya, sehingga Sensei Gichin Funakoshi mengubah kanji Okinawa (Tote: Tangan China) dalam kanji Jepang menjadi ‘karate’ (Tangan Kosong) agar lebih mudah diterima oleh masyarakat Jepang. Karate terdiri dari atas dua kanji. Yang pertama adalah ‘Kara’ 空 dan berarti ‘kosong’. Dan yang kedua, ‘te’ 手, berarti ‘tangan'. Yang dua kanji bersama artinya “tangan kosong” 空手 (pinyin: kongshou).
Menurut Zen-Nippon Karatedo Renmei/Japan Karatedo Federation (JKF) dan World Karatedo Federation (WKF), yang dianggap sebagai gaya karate yang utama yaitu:
Keempat aliran tersebut diakui sebagai gaya Karate yang utama karena turut serta dalam pembentukan JKF dan WKF.
Namun gaya karate yang terkemuka di dunia bukan hanya empat gaya di atas itu saja. Beberapa aliran besar seperti Kyokushin , Shorin-ryu dan Uechi-ryu tersebar luas ke berbagai negara di dunia dan dikenal sebagai aliran Karate yang termasyhur, walaupun tidak termasuk dalam "4 besar WKF".
Di negara Jepang, organisasi yang mewadahi olahraga Karate seluruh Jepang adalah JKF. Adapun organisasi yang mewadahi Karate seluruh dunia adalah WKF (dulu dikenal dengan nama WUKO - World Union of Karatedo Organizations). Ada pula ITKF (International Traditional Karate Federation) yang mewadahi karate tradisional. Adapun fungsi dari JKF dan WKF adalah terutama untuk meneguhkan Karate yang bersifat "tanpa kontak langsung", berbeda dengan aliran Kyokushin atau Daidojuku yang "kontak langsung".
Latihan dasar karate terbagi tiga seperti berikut:
  1. Kihon, yaitu latihan teknik-teknik dasar karate seperti teknik memukul, menendang dan menangkis.
  2. Kata, yaitu latihan jurus atau bunga karate.
  3. Kumite, yaitu latihan tanding atau sparring.
Pada zaman sekarang karate juga dapat dibagi menjadi aliran tradisional dan aliran olah raga. Aliran tradisional lebih menekankan aspek bela diri dan teknik tempur sementara aliran olah raga lebih menumpukan teknik-teknik untuk pertandingan olah raga.

Teknik Karate

Teknik Karate terbagi menjadi tiga bagian utama : Kihon (teknik dasar), Kata(jurus) dan Kumite (pertarungan). Murid tingkat lanjut juga diajarkan untuk menggunakan senjata seperti tongkat (bo) dan ruyung (nunchaku).
  • Kihon

Kihon (基本:きほん, Kihon?) secara harfiah berarti dasar atau fondasi. Praktisi Karate harus menguasai Kihon dengan baik sebelum mempelajari Kata dan Kumite.
Pelatihan Kihon dimulai dari mempelajari pukulan dan tendangan (sabuk putih) dan bantingan (sabuk coklat). Pada tahap dan atau Sabuk Hitam, siswa dianggap sudah menguasai seluruh kihon dengan baik.
  • Kata

Kata (型:かた) secara harfiah berarti bentuk atau pola. Kata dalam karate tidak hanya merupakan latihan fisik atau aerobik biasa. Tapi juga mengandung pelajaran tentang prinsip bertarung. Setiap Kata memiliki ritme gerakan dan pernapasan yang berbeda.
Dalam Kata ada yang dinamakan Bunkai. Bunkai adalah aplikasi yang dapat digunakan dari gerakan-gerakan dasar Kata.
Setiap aliran memiliki perbedaan gerak dan nama yang berbeda untuk tiap Kata. Sebagai contoh : Kata Tekki di aliran Shotokan dikenal dengan nama Naihanchi di aliran Shito Ryu. Sebagai akibatnya Bunkai (aplikasi kata) tiap aliran juga berbeda.
  • Kumite
Kumite (組手:くみて) secara harfiah berarti "pertemuan tangan". Kumite dilakukan oleh murid-murid tingkat lanjut (sabuk biru atau lebih). Tetapi sekarang, ada dojo yang mengajarkan kumite pada murid tingkat pemula (sabuk kuning). Sebelum melakukan kumite bebas (jiyu Kumite) praktisi mempelajari kumite yang diatur (go hon kumite) atau (yakusoku kumite). Untuk kumite aliran olahraga, lebih dikenal dengan Kumite Shiai atau Kumite Pertandingan.
Untuk aliran Shotokan di Jepang, kumite hanya dilakukan oleh siswa yang sudah mencapai tingkat dan (sabuk hitam). Praktisi diharuskan untuk dapat menjaga pukulannya supaya tidak mencederai kawan bertanding.
Untuk aliran "kontak langsung" seperti Kyokushin, praktisi Karate sudah dibiasakan untuk melakukan kumite sejak sabuk biru strip. Praktisi Kyokushin diperkenankan untuk melancarkan tendangan dan pukulan sekuat tenaganya ke arah lawan bertanding.
Untuk aliran kombinasi seperti Wado-ryu, yang tekniknya terdiri atas kombinasi Karate dan Jujutsu, maka Kumite dibagi menjadi dua macam, yaitu Kumite untuk persiapan Shiai, yang dilatih hanya teknik-teknik yang diperbolehkan dalam pertandingan, dan Goshinjutsu Kumite atau Kumite untuk beladiri, semua teknik dipergunakan, termasuk jurus-jurus Jujutsu seperti bantingan, kuncian, dan menyerang titik vital.

Pertandingan Karate

Pertandingan karate dibagi atas dua jenis yaitu :
  1. Kumite (perkelahian) putera dan puteri
  2. Kata (jurus) putera dan puteri

Kumite

Kumite dibagi atas kumite perorangan dengan pembagian kelas berdasarkan berat badan dan kumite beregu tanpa pembagian kelas berat badan (khusus untuk putera). Sistem pertandingan yang dipakai adalah reperchance (WUKO) atau babak kesempatan kembali kepada atlet yang pernah dikalahkan oleh sang juara. Pertandingan dilakukan dalam satu babak (2-3 menit bersih) dan 1 babak perpanjangan kalau terjadi seri, kecuali dalam pertandingan beregu tidak ada waktu perpanjangan. Dan jika masih pada babak perpanjangan masih mengalami nilai seri, maka akan diadakan pemilihan karateka yang paling ofensif dan agresif sebagai pemenang.

Kata

Pada pertandingan kata yang diperagakan adalah keindahan gerak dari jurus, baik untuk putera maupun puteri. Sesuai dengan Kata pilihan atau Kata wajib dalam peraturan pertandingan.
Para peserta harus memperagakan Kata wajib. Bila lulus, peserta akan mengikuti babak selanjutnya dan dapat memperagakan Kata pilihan.
Pertandingan dibagi menjadi dua jenis: Kata perorangan dan Kata beregu. Kata beregu dilakukan oleh 3 orang. Setelah melakukan peragaan Kata , para peserta diharuskan memperagakan aplikasi dari Kata (bunkai). Kata beregu dinilai lebih prestisius karena lebih indah dan lebih susah untuk dilatih.
Menurut standar JKF dan WKF, yang diakui sebagai Kata Wajib adalah hanya 8 Kata yang berasal dari perguruan 4 Besar JKF, yaitu Shotokan, Wado-ryu, Goju-ryu and Shito-ryu, dengan perincian sebagai berikut:
  • Shotokan : Kankudai dan Jion.
  • Wado-ryu : Seishan dan Chinto.
  • Goju-ryu : Saifa dan Seipai.
  • Shito-ryu: Seienchin dan Bassaidai.
Karateka dari aliran selain 4 besar tidak dilarang untuk ikut pertandingan Kata JKF dan WKF, hanya saja mereka harus memainkan Kata sebagaimana dimainkan oleh perguruan 4 besar di atas.

Aliran Karate

Seperti telah disinggung diatas, ada banyak aliran Karate di Jepang, dan sebagian dari aliran-aliran tersebut sudah masuk ke Indonesia.
Adapun ciri khas dan latar belakang dari berbagai aliran Karate yang termasuk dalam "4 besar JKF" adalah sebagai berikut:

Shotokan

Shoto adalah nama pena Gichin Funakoshi, Kan dapat diartikan sebagai gedung/bangunan - sehingga shotokan dapat diterjemahkan sebagai Perguruan Funakoshi. Gichin Funakoshi merupakan pelopor yang membawa ilmu karate dari Okinawa ke Jepang. Aliran Shotokan merupakan akumulasi dan standardisasi dari berbagai perguruan karate di Okinawa yang pernah dipelajari oleh Funakoshi. Berpegang pada konsep Ichigeki Hissatsu, yaitu satu gerakan dapat membunuh lawan. Shotokan menggunakan kuda-kuda yang rendah serta pukulan dan tangkisan yang keras. Gerakan Shotokan cenderung linear/frontal, sehingga praktisi Shotokan berani langsung beradu pukulan dan tangkisan dengan lawan. Beberapa kelompok Shotokan telah memperkenalkan kata dari gaya lain ke dalam pelatihan mereka. Silabus Kata Shotokan asli  diperkenalkan dalam buku Funakoshi Karate-do Kyohan, yang merupakan Teks Master dari Shotokan karate. Dai Nihon Karate-do Shotokai adalah perwakilan resmi dari Shotokan karate.
Silabus kata jepang Shotokai adalah sama sebagaimana ditetapkan dalam "Karate-do Kyohan"  dan ketika JKA dibentuk, Nakayama meletakkan 27 kata sebagai kata silabus untuk organisasi ini. Bahkan saat ini, ribuan dojo Shotokan hanya berlatih 26 dari 27 kata.  JKA Standar kata adalah: Taikyoku Shodan (kadang-kadang disebut Kata Kihon Kihon atau Kata, saat ini sudah banyak tidak diajarkan  di sebagian besar dojo Shotokan)
Kata Dalam Shotokan Dojo
  • Heian Shodan (平安 初段),
  • Heian Nidan (平安 二段)
  • Heian Sandan (平安 三 )
  • Heian yondan (平安 四段)
  • Heian Godan (平安 五 段),
  • Bassai dai (披 塞 大)
  • Jion (慈恩), EMPI (燕飞)
  • Kanku dai (観 空 大)
  • Hangetsu (半月) ,
  • Jitte (十 手),
  • Gankaku (岩 鹤)
  • Tekki Shodan (鉄 骑 初段),  
  • Tekki Nidan (鉄 骑 二段),  
  • Tekki Sandan (鉄 骑 三 段)
  • Nijūshiho (二十 四 步),  
  • Chinte (珍 手)
  • Meikyō / Rōhai (明镜),  
  • Unsu (云 手), Bassai Sho   
  • (披 塞 小), Kanku Sho (観 空 小),   
  • Wankan (王冠),   
  • Gojūshiho Sho (五十 四 歩 小),  
  • Gojūshiho dai (五十 四 歩 大),  
  • Ji'in(慈 阴
Seluruh Kata Shotokan Video Youtube nya Dapat dilihat di  DISINI

Goju-ryu

Goju memiliki arti keras-lembut. Aliran ini memadukan teknik keras dan teknik lembut, dan merupakan salah satu perguruan karate tradisional di Okinawa yang memiliki sejarah yang panjang. Dengan meningkatnya popularitas Karate di Jepang (setelah masuknya Shotokan ke Jepang), aliran Goju ini dibawa ke Jepang oleh Chojun Miyagi. Miyagi memperbarui banyak teknik-teknik aliran ini menjadi aliran Goju-ryu yang sekarang, sehingga banyak orang yang menganggap Chojun Miyagi sebagai pendiri Goju-ryu. Berpegang pada konsep bahwa "dalam pertarungan yang sesungguhnya, kita harus bisa menerima dan membalas pukulan". Sehinga Goju-ryu menekankan pada latihan SANCHIN atau pernapasan dasar, agar para praktisinya dapat memberikan pukulan yang dahsyat dan menerima pukulan dari lawan tanpa terluka. Goju-ryu menggunakan tangkisan yang bersifat circular serta senang melakukan pertarungan jarak rapat.
Goju-ryu memiliki 12 kata inti dalam kurikulum standar: gekisai (dai ichi & dai ni), saifa, seiyunchin, Seisan, saipai, shisochin, sanseiru, kururunfa, Sanchin, Tensho, dan suparenpai. Siswa di sekolah  wajib mengetahui mengetahui semua kata ini sebelum mencapai Sandan. Morio Higaonna sensei menulis bahwa "Karate diawali dan diakhiri dengan kata Kata adalah inti dan dasar karate dan. Itu merupakan akumulasi dari lebih dari 1000 tahun pengetahuan. Dibentuk oleh banyak master  sepanjang zaman melalui pelatihan khusus dan penelitian, kata adalah seperti peta untuk membimbing kita, dan dengan demikian tidak boleh diubah atau dirusak " 

KihongataKihongata berarti "kata dasar-dasar." Di Goju-ryu, Sanchin kata adalah dasar untuk semua kata Goju lainnya karena mengajarkan gerakan dasar, teknik dasar, pembangkit listrik dan teknik pernapasan dari qigong. Ini juga merupakan dasar dari kondisi tubuh. Semakin karateka yang mempraktikkan kata, semakin Heishugata nya akan berubah. Variasi pertama Sanchin-kata (Sanchin kata dai-ichi) berfungsi sebagai Kihongata. Lihat lebih lanjut tentang Sanchin kata di bawah ini.

GekisaiGekisai (kanji: 撃 砕, katakana: ゲキサイ) berarti "menyerang dan menghancurkan". Kata ini diciptakan sekitar tahun 1940 oleh Chojun Miyagi dan Nagamine Shoshin sebagai kata pemula ', untuk memperkenalkan bentuk-bentuk dasar karate (kihon) untuk siswa sekolah menengah di Okinawa, untuk membantu mewujudkan standardisasi karate, dan untuk mengajarkan satu set dasar teknik untuk membela diri Gekisai kata sangat dipengaruhi oleh tehnik Shuri-te  dari Guru Miyagi belajar dari Anko Itosu Guru. Siswa pertama-tama belajar gekisai dai ichi dan kemudian gekisai dai ni. Perbedaan utama antara dai ichi dan dai ni adalah bahwa dai ni memperkenalkan teknik tangan terbuka dan sikap baru. Hal ini di gekesai dai ni bahwa siswa diperkenalkan dengan sikap ashi neko Dachi, dan blok roda (Tomai Uke).

SaifaSaifa (Kanji: 砕 破, Katakana: サイハ) berarti "smash dan air mata"  Saifa memiliki asal-usul dari Cina, dan dibawa ke Okinawa oleh Higashionna.. Berisi gerakan cepat mencambuk, hammerfists, dan kembali serangan tinju, dan sangat menekankan pergerakan off-line dari kekuatan utama lawan, sekaligus menutup jarak dan menghancurkani mereka Ini biasanya kata pertama Goju-ryu 

SanchinSanchin (Kanji: 三 戦, Katakana: サンチン) berarti "tiga pertempuran". Kata ini adalah semacam meditasi bergerak, yang tujuannya adalah untuk menyatukan pikiran, tubuh dan jiwa. Teknik-teknik yang dilakukan sangat lambat sehingga gerakan mahasiswa master yang tepat, pernapasan, sikap / postur, kekuatan internal, dan stabilitas dari kedua pikiran dan tubuh Sanchin adalah dasar untuk semua kata lainnya, dan umumnya dianggap sebagai kata yang paling penting untuk dikuasai. Ketika siswa baru.

Tenso
Tensho (Kanji: 転 掌, Katakana: テンショウ) berarti "tangan revolving" Seperti Sanchin, Tensho adalah bentuk meditasi bergerak, Tensho menggabungkan  ketegangan dinamis dengan lembut gerakan tangan, dan berkonsentrasi kekuatan di tanden Tensho dapat dianggap sebagai ju (lembut) counterpart dari Sanchin itu (keras)
KaishugataKaishugata berarti "kata dengan tangan terbuka." Ini lebih maju daripada Heishugata. Kaishugata berfungsi sebagai "aplikasi tempur referensi" kata dan terbuka untuk interpretasi yang luas (Bunkai) dari tujuan gerakannya 'maka disebut , "tangan terbuka").
KATA DALAM GOJU RYU
  • Seiunchin (kanji: 制 引 戦, katakana: セイユンチン (menyerang, menaklukkan, menekan, juga disebut sebagai "untuk mengontrol dan menarik ke dalam pertempuran"):
  • Shisōchin - Kanji: 四向 戦 - Katakana: シソーチン ("menghancurkan dalam empat arah" atau "bertarung di empat arah"): Ini mengintegrasikan serangan linear kuat (Shotei zuki) dan gerakan melingkar dan blok. Itu adalah kata favorit Miyagi akhir.
  • Sanseirū - Kanji: 三 十六 手 - Katakana: サン セイルー (36 Tangan): Kata ini mengajarkan bagaimana untuk bergerak di sekitar lawan dalam pertarungan jarak dekat, dan menekankan kehancuran mobilitas lawan dengan cara kanzetsu geri.
  • Seipai - Kanji: 十八 手 - Katakana: セイパイ (18 Tangan): Seipai menggabungkan kedua empat gerakan terarah dan 45 ° sudut serangan dan menerapkan teknik untuk jarak jauh dan memerangi kuartal dekat. Ini adalah kata spesialisasi Toguchi Seikichi 
  • Kururunfā - Kanji: 久留 顿 破 - Katakana: クルルンファー (berpegang pada panjang dan mencolok tiba-tiba): teknik yang didasarkan pada gaya Mantis Cina Berdoa. Itu kata khusus Ei'ichi Miyazato itu.
  • Seisan - Kanji: 十三 手 - Katakana: セイサン (13 Tangan): Seisan dianggap salah satu kata tertua yang banyak dipraktekkan antara lain Naha-te sekolah. Ryuha lainnya juga mempraktekkan ini kata atau versi lain dari itu.
  • Supārinpei - Kanji: 壱 百零八 - Katakana: スーパー リン ペイ (108 Tangan): Juga dikenal sebagai Pechurin, itu adalah kata Goju-ryu yang paling canggih.
Seluruh Kata Goju Ryu  Video Youtube nya Dapat dilihat  DISINIl

 

Shito-ryu
Aliran Shito-ryu terkenal dengan keahlian bermain KATA, terbukti dari banyaknya KATA yang diajarkan di aliran Shito-ryu, yaitu ada 30 sampai 40 KATA, lebih banyak dari aliran lain. Namun yang tercatat di soke/di Jepang ada 111 kata beserta bunkainya. Sebagai perbandingan, Shotokan memiliki 25, Wado memiliki 17, Goju memiliki 12 KATA. Dalam pertarungan, ahli Karate Shito-ryu dapat menyesuaikan diri dengan kondisi, mereka bisa bertarung seperti Shotokan secara frontal, maupun dengan jarak rapat seperti Goju.

SEJARAH SINGKAT
Shito di perkenalkan oleh Kenwa Mabuni (Mabuni Kenwa 摩 文 仁 贤 和) lahir di Shuri, Okinawa pada tahun 1889. Mabuni adalah keturunan generasi ke-17 dari prajurit yang terkenal Oni Ufugusuku Kenyu. Mungkin karena kondisi  lemah, ia mulai berlatih  di dojo Shuri-te (首 里手?) Pada usia 13 , di bawah bimbingan dari Itosu Anko legendaris (糸 州 安 恒 Itosu Anko?) (1.831-1.915). Dia dilatih dengan tekun selama beberapa tahun, belajar banyak kata dari guru besar ini. Itosu yang pertama kali mengembangkan kata Pinan, yang paling mungkin berasal dari bentuk "Kusanku".

Salah satu teman dekatnya, Chojun Miyagi (宫城 长顺 Miyagi Chojun?) (Co-pendiri Goju-ryu Karate) memperkenalkan Mabuni  Kanryo Higaonna (东 恩纳 寛 量 Higaonna Kanryo?). Mabuni mulai belajar Naha-te (那霸 手?)  Sementara itu  Itosu dan Higaonna mengajarkan "keras-lembut" gaya Okinawa "Te", metode dan penekanan yang cukup berbeda: silabus Itosu termasuk teknik lurus dan kuat seperti yang dicontohkan dalam kata Naihanchi dan Bassai, silabus Higaonna menekankan gerakan melingkar dan metode pertempuran pendek seperti yang terlihat dalam Seipai kata dan Kururunfa. Shito-ryu berfokus pada kedua teknik keras dan lunak sampai hari ini.
KATA DASAR
  • Junino Kata
  • Daichi Dosa
  • Daini Dosa
  • Daisan Dosa
  • Daiyon Dosa
  • Heien Nidan
  • Heian Shodan
  • Heian Sandan
  • Sanchin
  • Heien Yondan
  • Myoju
  • Heian Godan
  • Aoyagi
  • Juroku
  • Naifanchi Shodan
  • Tensho
KATA LANJUTAN/ DAN
  • Bassai dai
  • Seienchin
  • Seipai
  • Shiho Kosokun
  • Chintei
  • Soochin
  • Chinto
  • Sanseiru
  • Tomari no Wanshu
  • Annan
  • Shisoochin
  • Unsu
  • Kururunfa
  • Tomari no Bassai
  • Paiku
  • Gojushiho
  • Heiku
  • Nipaipo
  • Haffa
  • Hakkaku
  • Suparimpei
  • Chatanyara no Kushanku
         Seluruh Kata Shito  Ryu  Video Youtube nya Dapat dilihat  DISINI

Wado-ryu

Wado-ryu adalah aliran Karate yang unik karena berakar pada seni beladiri Shindo Yoshin-ryu Jujutsu, sebuah aliran beladiri Jepang yang memiliki teknik kuncian persendian dan lemparan. Sehingga Wado-ryu selain mengajarkan teknik Karate juga mengajarkan teknik kuncian persendian dan lemparan/bantingan Jujutsu. DIdalam pertarungan, ahli Wado-ryu menggunakan prinsip Jujutsu yaitu tidak mau mengadu tenaga secara frontal, lebih banyak menggunakan tangkisan yang bersifat mengalir (bukan tangkisan keras), dan kadang-kadang menggunakan teknik Jujutsu seperti bantingan dan sapuan kaki untuk menjatuhkan lawan. Akan tetapi, dalam pertandingan FORKI dan JKF, para praktisi Wado-ryu juga mampu menyesuaikan diri dengan peraturan yang ada dan bertanding tanpa menggunakan jurus-jurus Jujutsu tersebut.
SEJARAH SINGKAT
Aliran ini diciptakan oleh Hironori Otsuka pada tahun 1934. Ia menggabungkan teknik dari seni beladiri Shindo Yoshin-ryu Jujutsu dengan seni beladiri Okinawan Karate yang dipelajarinya dari Funakoshi (pendiri Shotokan Karate), Kenwa Mabuni (pendiri Shito-ryu Karate) dan Choki Motobu (tokoh Okinawan Kenpo).
Atas jasa-jasa beliau dalam memopulerkan Karate dan Jujutsu, Hironori Otsuka diberi penghargaan oleh Kaisar Jepang pada tahun 1970-an, dan sebelum wafatnya pada tahun 1982, beliau dianugerahi gelar "Meijin Judan" (manusia bijaksana, DAN-10) oleh keluarga kaisar. Sepeninggal beliau, organisasi Wado-ryu terpecah menjadi tiga yaitu Wado-ryu Renmei yang dipimpin oleh Jiro Otsuka, Wado Kokusai Renmei yang dipimpin oleh Tatsuo Suzuki, dan JKF-Wadokai yang dipimpin oleh alm. Eichi Eriguchi.
Wado-ryu selain dikenal sebuah aliran karate juga dikenal sebagai aliran jujitsu, karena di dalam syllabus Wado-ryu juga diajarkan jujitsu dari aliran Shindo Yoshin-ryu seperti disebutkan di atas. Ciri khas Wado-ryu adalah memiliki KATA berpasangan seperti yang dimiliki oleh jujutsu, untuk melengkapi KATA sendirian seperti yang lazim dimiliki oleh sebuah aliran karate.
Adapun KATA yang dimainkan di dalam aliran Wado-ryu adalah:
  • Pinan 1-5, Naihanchi,
  • Seishan,
  • Chinto,
  • Kushanku,
  • Bassai,
  • Rohai,
  • Niseishi,
  • Jion,
  • Jitte. 
  • Gojushiho,
  • Matsumura Rohai,
  • Suparimpei
  • Unsu, namun belum secara resmi diterima oleh semua perguruan Wado. Sedangkan KATA berpasangan yang diadopsi dari Jujutsu adalah:
  • Idori no Kata, Gyakunage no Kata,
  • Fujin Goshinjutsu,
  • Yakusoku Kihon Kumitegata,
  • Tantodori dan
  • Shinken Shirahadori.
  • Beberapa perguruan Wado juga menerapkan Ohyo Kumite dan Goshin Jutsu Ohyo, yaitu aplikasi dan variasi teknik-teknik Wado-ryu Karate dan Jujutsu untuk situasi beladiri.
Wado-ryu masuk ke Indonesia pada tahun 1968, dibawa oleh Ir. Chaerul.A. Taman M.Eng, sekarang menjabat sebagai Guru Besar dari Wado-ryu Karate-Do Indonesia (WADOKAI) dengan gelar Nanadan-Renshi (setingkat Professor Madya, DAN-7) dari markas besar JKF-Wadokai di Jepang. Ia ikut mendirikan FORKI pada tahun 1972, dan juga tercatat sebagai pendiri, guru besar dan ketua penasehat Goshinbudo Jujutsu Indonesia Club (GBI) , salah satu organisasi Jujutsu di Indonesia. Beberapa Karateka hasil bimbingan WADOKAI telah menyumbangkan prestasinya untuk bangsa Indonesia, antara lain Tommy Firman juara WUKO dan Hasan Basri juara Asian Games.

Kyokushin

Kyokushin tidak termasuk dalam 4 besar Japan Karatedo Federation. Akan tetapi, aliran ini sangat terkenal baik di dalam maupun diluar Jepang, serta turut berjasa memopulerkan Karate di seluruh dunia, terutama pada tahun 1970an. Aliran ini didirikan oleh Sosai Masutatsu Oyama. Nama Kyokushin mempunyai arti kebenaran tertinggi. Aliran ini menganut sistem Budo Karate, dimana praktisi-praktisinya dituntut untuk berani melakukan full-contact kumite, yakni tanpa pelindung, dan menyerang secara frontal, untuk mendalami arti yang sebenarnya dari seni bela diri karate serta melatih jiwa/semangat keprajuritan (budo), aliran ini juga sering dikenal sebagai salah satu aliran karate paling keras. Tidak seperti kebanyakan aliran karate yang sudah berfokus pada olahraga, dimana dalam pertandingannya menerapkan sistem tidak kontak langsung dan hasil yang ditentukan oleh poin, Kyokushin masih berpegang teguh pada sistem tradisional, terlihat dari sistem pertandingan kumite pada kejuaraan Kyokushin yang menerapkan pertarungan full contact dan boleh membuat Knock Out (KO) lawan. Aliran ini menerapkan hyakunin kumite (kumite 100 orang) sebagai ujian tertinggi, dimana karateka diuji melakukan 100 kumite berturut-turut tanpa kalah. Sosai Oyama sendiri telah melakukan kumite 300 orang. Adalah umum bagi praktisi aliran ini untuk melakukan 5-10 kumite berturut-turut.
SEJARAH SINGKAT
Masutatsu Oyama, pendiri aliran Kyokushin, lahir sebagai seorang Korea yang bernama Choi Hyung Yee. Sewaktu kecil di Korea, beliau mempelajari seni bela diri Korea yang bernama Chabee. Chabee mendapat pengaruh dari seni bela diri Tiongkok "Seni 18 Telapak Tangan" yang dikembangkan lebih lanjut oleh orang Korea menjadi Chabee. Sejak kecil, Choi Hyung Yee bukanlah seorang anak yang diam saja dan bersabar kalau diganggu. Ia sering terlibat dalam perkelahian, apalagi bila ia atau teman-temannya diganggu. Kepribadian yang agresif inilah yang ia wariskan ke Kyokushin menjadi sebuah aliran yang menekankan offense, dan pentingnya menjatuhkan lawan secepat mungkin.
Pada masa Perang Dunia 2, Choi Hyung Yee pindah ke Jepang dan mendaftarkan diri sebagai mekanik pesawat tempur. Di Jepang, ia tinggal bersama keluarga perantuan dari Korea dan mengadopsi nama keluarga mereka, Oyama. Pada saat itu banyak orang perantauan yang mengadopsi nama Jepang agar mudah berbaur dan diterima masyarakat Jepang. Setelah perang usai pada tahun 1945, beliau mempelajari karate Shotokan dari guru besar Gichin Funakoshi. Pada saat yang bersamaan, beliau bertemu dengan sesama perantauan dari Korea bernama So Nei Chu. So Nei Chu mewarisi Goju-Ryu dari Gogen Yamaguchi, dan Mas Oyama mempelajari Goju-Ryu dari So Nei Chu.
Mas Oyama lalu mendirikan sebuah dojo karate di Tokyo. Karate di dojo ini menekankan pentingnya latihan full-contact kumite (latih-tanding tanpa pelindung). Menurutnya, full contact kumite merupakan hal yang penting untuk mengasah semangat dan ketrampilan berkelahi. Hal ini sempat menimbulkan ketegangan dengan tetua-tetua dari aliran karate lain yang berpendapat bahwa praktek aplikasi karate secara langsung itu berbahaya dan tidak perlu.
Puncak ketegangan ini muncul pada tahun 1960-an. Pada waktu itu, petinju Muay Thai menyatakan bahwa Thai Boxing adalah seni bela diri yang terkuat, dan ia telah mengalahkan banyak wakil aliran bela diri, termasuk karate Jepang (Pada waktu itu, karate sedang populer di dunia internasional, dan petinju Muay Thai ini ingin memanfaatkan kesempatan untuk mencari nama). Petinju Muay Thai tersebut meminta wakil resmi dari Jepang untuk menjawab tantangannya. Sikap resmi dari aliran-aliran Karate di Jepang adalah untuk tidak melayani tantangan tersebut, karena tujuan dari Karate adalah untuk membina mental dan salah satu dari perwujudan penempaan mental tersebut adalah untuk menghindarkan dari perkelahian yang tidak perlu. Akan tetapi, Mas Oyama berpendapat bahwa "Karate memang bukan untuk mencari masalah. Tetapi apabila masalah itu datang dengan sendirinya, lari dari masalah adalah tindakan pengecut". Ia mengirim 3 murid terbaiknya ke Thailand untuk bertanding dengan aturan Muay Thai. Dua dari tiga muridnya tersebut menang dan mereka kembali ke Jepang dielu-elukan sebagai pahlawan yang mengangkat harga diri Jepang. Hal ini menambah ketegangan antara aliran Oyama ini dengan aliran-aliran Karate yang lain, sehingga banyak aliran lain yang menjuluki aliran Oyama sebagai "bukan Karate" dan "ilmunya para berandalan".
Mas Oyama tidak ambil pusing atas tanggapan tersebut. Ia secara resmi mendirikan Kyokushin yang berarti kebenaran tertinggi yang beliau yakini sebagaimana Karate seharusnya diajarkan dan dipelajari. Ia mengadakan turnamen-turnamennya sendiri merespon dilarangnya Kyokushin mengikuti pertandingan-pertandingan Karate. Meski di-'anak-tiri'-kan, Kyokushin berkembang pesat di dalam maupun di luar Jepang, terutama karena beberapa generasi pertama Kyokushin banyak menantang berbagai aliran bela diri di Asia maupun di negara-negara Barat.
Kematian Oyama meninggalkan perpecahan di tubuh organisasi Kyokushin. Kelompok-kelompok ini saling mengklaim memiliki otoritas untuk mewakili Honbu (markas/headquarters) yang asli.
Cabang-cabang baru yang memiliki gerakan dan teknik yang sama, namun dengan nama berbeda, lahir. Banyak juga dojo-dojo yang mengajarkan kurikulum Kyokushin meskipun tidak memiliki ikatan formal dengan organisasi. Meskipun sulit untuk dihitung secara pasti, diperkirakan jumlah murid yang mempelajari aliran Kyokushin atau aliran cabangnya telah mencapai jutaan orang.
Istri Oyama meninggal bulan Juni 2006 setelah lama mengidap penyakit. Berdasarkan sistem hukum di Jepang, hak intelektual milik Oyama diturunkan kepada anak perempuannya yang bernama Kikuko (dikenal pula dengan nama Kuristina).
Kata Utara
Kata utara dipengaruhi oleh aliran Shotokan yang dipelajari Mas Oyama dari Gichin Funakoshi
  • Taikyoku sono ichi
  • Taikyoku sono ni
  • Taikyoku sono san
  • Pinan Sono Ichi
  • Pinan Sono Ni
  • Pinan Sono San
  • Pinan Sono yon
  • Pinan Sono Go
  • Kanku Dai
  • Sushiho
Kata khusus/unik
Kata selatan
Kata selatan dipengaruhi oleh aliran Goju Ryu yang dipelajari Oyama dari So Nei Chu dan Gogen Yamaguchi.
  • Sanchin
  • Gekisai Dai
  • Gekisai Sho
  • Tensho
  • Saifa
  • Seienchin
  • Seipai
  • Yantsu
Unik
Kyokushin memiliki beberapa kata yang tidak ditemui pada aliran lainnya, di antaranya Garyu, Yantsu, Tsuki no kata. Garyu diciptakan oleh Mas Oyama. Nama "Garyu" sendiri berasal dari nama kampung di mana Oyama lahir. Tsuki no kata juga salah satu kata unik Kyokushin, namun masih diperdebatkan siapa penciptanya. Teori yang paling umum adalah bahwa kata ini diciptakan oleh Tadashi Nakamura sebelum ia memisahkan diri dari organisasi Kyokushin.
Ura kata
Beberapa kata juga dilakukan dalam bentuk "ura". Ini berarti bahwa pada setiap langkah, salah satu kaki harus diputar (tergantung arah dan posisi terakhir). Ura kata dikembangkan oleh Oyama untuk melatih keseimbangan dan kemampuan pertarungan multi-arah

Uechi-ryu

Aliran ini adalah aliran Karate yang paling banyak menerima pengaruh dari beladiri China, karena pencipta aliran ini, Kanbun Uechi, belajar beladiri langsung di provinsi Fujian di China. Oleh karena itu, gerakan dari aliran Uechi-ryu Karate sangat mirip dengan Kungfu aliran Fujian, terutama aliran Baihequan (Bangau Putih).
 SEJARAH SINGKAT
Kanbun Uechi mempelajari Pangai-siang (setengah-keras, setengah-soft) di bawah Shu Shiwa (id: 周 子 和) di provinsi Fujian (juga Romanized sebagai Fukien) dari Cina daratan di akhir abad 19 dan awal abad 20. Setelah mempelajari 10 tahun di bawah Shushiwa, Kanbun Uechi membuka sekolah sendiri di Nanjing. Dua tahun kemudian, Kanbun Uechi kembali ke Okinawa, bertekad untuk tidak pernah mengajar lagi karena salah satu mahasiswa Cina itu telah membunuh seorang tetangga dengan teknik tangan terbuka dalam sengketa lahan irigasi. Sementara ia bekerja sebagai petugas kebersihan ia dibujuk oleh seorang rekan kerja, Ryuyu Tomoyose, untuk mengajar lagi setelah yang pertama kali meyakinkan nya bahwa untuk menunjukkan cara Tomoyose membela diri terhadap serangan yang berbeda. Ketika keyakinannya sebagai guru dipulihkan, Uechi, dengan bantuan Ryuyu Tomoyose, pindah ke Wakayama City, Wakayama Prefecture, di mana, pada tahun 1925, ia mendirikan Institut Pangainun-ryu Todi-jutsu (パンガイヌーン 流 唐 手術), dan membuka dojo untuk umum. Akhirnya, pada tahun 1940, berganti nama Okinawa sistem menjadi  "Uechi Ryu Karatejutsu" (上 地 流 空 手术) untuk menghormatinya.

Grandmaster Kanbun Uechi anak Kanbun Uechi itu, Kanei Uechi, mengajarkan gaya di Futenma Kota Dojo, Okinawa, dan dianggap sebagai Okinawa pertama yang  orang asing. Salah satu siswa Kanbun itu, Ryuko Tomoyose, orang Amerika bernama George Mattson yang menulis beberapa buku tentang subjek dan sebagian besar bertanggung jawab untuk mempopulerkan gaya di Amerika. Uechi Ryu menekankan ketangguhan tubuh dengan pukulan cepat dan tendangan. Beberapa senjata yang lebih khas dari praktisi Uechi adalah satu-knuckle pukulan (Shoken), spearhand (Nukite), dan tendangan kaki (sokusen geri). Pada rekening ini penekanan pada kesederhanaan, stabilitas, dan kombinasi gerakan linear dan melingkar, pendukung mengklaim gaya lebih praktis untuk pertahanan diri daripada kebanyakan seni bela diri lainnya.
Berbeda dengan gaya yang lebih linier karate berdasarkan Okinawa Shuri-te atau Tomari-te, koneksi Uechi Ryu dengan Chinese Nanpa Shorin-ken dengan demikian hampir sama dengan Goju-ryu) meskipun mereka perkembangan terpisah [2]. Dengan demikian, Uechi Ryu juga sangat dipengaruhi oleh gerakan melingkar yang termasuk ke dalam kungfu dari propinsi Fujian. Uechi Ryu itu secara prinsip didasarkan pada gerakan dari 3 hewan: Macan, Naga, dan bangau.
 Adapun KATA yang dimainkan di dalam aliran Uechi-ryu adalah:
  1. Sanchin
  2. Kanshiwa
  3. Kanshu
  4. Seichin
  5. Seisan
  6. Seirui
  7. Kanchin
  8. Sanseirui ( Sandairui)

Shorin-ryu 
Aliran ini adalah aliran Karate yang asli berasal dari Okinawa. Didirikan oleh Shoshin Nagamine yang didasarkan pada ajaran Yasutsune Anko Itosu, seorang guru Karate abad ke 19 yang juga adalah guru dari Gichin Funakoshi, pendiri Shotokan Karate. Dapat dimaklumi bahwa gerakan Shorin-ryu banyak persamaannya dengan Shotokan. Perbedaan yang mencolok adalah bahwa Shorin-ryu juga mengajarkan bermacam-macam senjata, seperti Nunchaku, Kama dan Rokushaku Bo.
Shorin-ryu (小林 流?) Adalah salah satu seni bela diri modern utama Okinawa dan merupakan salah satu gaya tertua dari karate. Ini disebut oleh Choshin Chibana pada tahun 1933, namun sistem itu sendiri jauh lebih tua. "Shorin" adalah bahasa Okinawa pengucapan Shaolin (小林) seperti dalam Kuil Shaolin Cina. "Ryu" berarti "Style". Shorin-ryu menggabungkan unsur-unsur dari pertempuran gaya tradisional Okinawa dari Shuri-te.
Chosin Chibana memilih untuk menyebut gayanya Shorin-ryu untuk menghormati akar Shaolin Cina, dan membedakannya dari gaya orang lain yang sedang dimodifikasi dari ajaran asli Anko Itosu. Sebelum ini, tidak ada nama untuk gaya di Okinawa (meskipun umum di Jepang untuk seni bela diri Jepang).
Secara historis, Shorin-Ryu Karate dan Kobudo dikembangkan di Okinawa sebelum tahun 1900. Tahun sebenarnya tidak jelas karena seniman bela diri Okinawa menjaga perkembangan karate sangat rahasia dari samurai. Satsuma menyerang klan dari Jepang pada 1609 [ Samurai Jepang tidak akan mengizinkan Okinawa untuk mengembangkan seni bela diri dan semua senjata telah disita . Pada 1669, bahkan pembuatan senjata seremonial dilarang, sehingga perkembangan seni bela diri di Okinawa bergerak di bawah tanah
Kata dalan Shorin Ryu
 NAGE WAZA
Pinan ShodanPinan NidanPinan SandanPinan YodanPinan Godan
 NAIHANCHI
Naihanchi ShodanNaihanchi NidanNaihanchi Sandan
PASSAI KA
Passai DaiPassai Sho
 SHOREI
Jutte
Jion .
Giin
SEIYO GRUP 5
Nijushiho (24 langkah)
Unsu (tangan Cloud)
Chinte (bentuk tangan Cina)
Meikyo (untuk memoles cermin)
SEIYO GRUP 6
Chinto (gankaku) kata. "Crane on the Rock". I
Wanshu (Enpi) kata. "Terbang Walet". 
Sochin
Hangetsu Dachi
SEIYO GRUP 7
 Wankan Dai. 
Okan (Wankan Sho)
Gojushiho (54 - bentuk langkah).
SEIYO GRUP 8
Rohai.
Hakutsuru Dai. White Crane
Hatkusuri Sho. White Crane
KOBUDO KATA
Kihon Bo. Sho Tidak ada Kun.Sho Ken No Kun.Suuji No Kun.Choun No  Dai KunChoun No Sho KunBojutsu ShodanBojutsu NidanBojutsu SandanBojutsu-Katana Kata
NUNCHAKU KATA
Nunchaku Shodan.Nunchaku Nidan.Nunchaku Sandan.Nunchaku Yodan. Kata diciptakan oleh Soke Hausel.Nunchaku GodanNicho Nunchuku (Rokudan).
SAI KATA
Sai Shodan.Sai NidanSai SandanSai Yodan. Kata dari sistem Yamani-Ryu dimodifikasi untuk Seiyo Shorin-RyuSai Godan.Kata dari sistem Yamani-Ryu dimodifikasi untuk Seiyo Shorin-RyuSai Rokudan
KATA TONFA
Tonfa ShodanTonfa NidanTonfa Sandan
KAMA/GAMA KATA
Gama ShodanGama NidanGama Sandan
KUWAI KATA
EKU KATA
NITANBO KATA kata. Nitanbo (dua tongkat) kata yang dibuat oleh Soke Hausel untuk Seiyo Shorin-Ryu
HANBO KATA Kata Seiyo Shorin-Ryu menggabungkan beberapa Hanbo (setengah bo)
Seiyo Shorin-Ryu juga melatih anggota dalam berbagai seni samurai termasuk kenjutsu (pedang samurai), manrikigusari (tali atau rantai tertimbang), tanto (pisau), yari (tombak), naginata (tombak), hojo (tali) 

Mengenal gerakan dalam karate

Mengenal Gerakan Dalam Karate

gerakan karate
Karate merupakan salah satu seni bela diri populer di dunia yang diketahui berasal dari negeri Sakura, Jepang. Jenis bela diri yang satu ini menekankan pada kemampuan menghalau lawan dengan tangan kosong tanpa bantuan senjata apapun. Karate memang merupakan kata yang dibentuk dari dua huruf kanji yakni Kara dan Te. Kara sendiri berarti kosong dan te berarti tangan. Dengan demikian, sejak awal pembentukan jenis bela diri ini, memang ditujukan hanya dalam konteks penggunaan anggota badan misalnya tangan atau kaki sebagai senjata satu-satunya untuk melawan. Dalam karate, ada banyak jenis gerakan tubuh. Namun secara umum, gerakan karate ini dibagi atas tiga teknik utama antara lain: Kihon (teknik dasar), Kata (jurus) dan, Kumite (pertarungan).

Teknik gerakan karate yang pertama adalah Kihon. Dalam bahasa Jepang, Kihon atau 基本:きほん diartikan sebagai dasar, fondasi, pijakan dan lain-lain. Dengan demikian, apa-apa yang tercakup di dalam Kihon ini wajib dikuasai mereka yang hendak belajar karate. Sebab tanpa Kihon yang benar, maka seseorang tidak akan bisa langsung berpindah pada Kata terlebih menggunakan karate dalam Kumite. Gerakan karate dalam Kihon ini terdiri atas gerakan dasar yang mencakup pukulan, tendangan juga bantingan. Biasanya pada tahapan kihon ini, seseorang masih memegang sabuk putih maupun coklat. Jika mereka sudah bersabuk hitam, maka gerakan Kihon-nya sudah sangat sempurna atau baik.


Gerakan karate selanjutnya adalah Kata. Merunut pada artian sebenarnya, Kata berarti bentuk atau juga pola. Gerakan karate yang satu ini bukan hanya sekedar sebuah latihan untuk fisik namun lebih kepada filosofi atau prinsip-prinsip dasar dalam bertarung. Kata ini mengandung banyak hal, salah satunya adalah Bunkai. Apa itu Bunkai? Ia merupakan penerapan dari gerakan dasar Kata. Setiap gerakan Kata ini mempunyai riteme yang bervariatif demikian pula dengan teknik pernapasan yang mengiringinya.

Teknik gerakan karate selanjutnya adalah Kumite atau pertarungan. Jika merunut pada akah katanya, maka Kumite berarti pertemuan tangan. Biasanya Kumite ini hanya dilakukan atau dipraktekkan oleh mereka yang telah belajar karate dan telah sampai pada tahapan tertentu, misalnya mereka yang bersabuk biru atau di atasnya. Kumite ini sebenarnya merupakan ajang untuk melatih kemampuan seseorang. Dari kumite ini, terlihat seberapa baik mereka menerapkan pelajaran Kihon dan Kata. Pertarungan karate saat ini lebih kepada sebuah bentuk olahraga dan bukan lagi bela diri seperti layaknya Kumite di masa lampau. Bagaimana? Siap belajar karate? Sambil memantapkan niat, tak ada salahnya memahami aliran-aliran yang ada di dalam Karate. Misalnya sata Shotokan, Gojo-Ryu, Shito-Ryu, Wado-Ryu dan juga Kyokushin. Masing-masing aliran ini memiliki gerakan karate yang berbeda meski dasarnya pasti sama. Pilih yang memang sesuai dengan yang Anda cari.

JKA Karate Kumite - Japan

Minggu, 26 Januari 2014

Sejarah Karate

Sejarah Olahraga Karate

Posted by Marine Candra Sakti, 27 Januari 2014
Sejarah Olahraga Karate- Karate adalah seni mencolok menggunakan memukul, menendang, lutut dan siku pemogokan, dan teknik tangan terbuka seperti pisau-tangan (karate chop). Jepitan, kunci, pengekangan, melempar, dan pemogokan titik penting diajarkan di beberapa gaya. Seorang praktisi karate disebut karateka. Seni beladiri Karate dikembangkan di Kepulauan Ryukyu di tempat yang sekarang Okinawa, Jepang. Ini dikembangkan dari metode melawan adat yang disebut te (Harfiah Tangan; Tii di Okinawa) dan Kenpo Cina.
Sejarah Olahraga Karate
Sebuah teori mengatakan bahwa asal mula karate berasal dari ilmu bela diri Okinawa. Te atau Okinawa-Te adalah seni bela diri asli setempat yang telah mengalami perkembangan berabad-abad lamanya, dan kemudian banyak dipengaruhi oleh teknik perkelahian yang dibawa oleh para ahli seni bela diri China yang mengungsi ke Okinawa. Sekitar Abad ke5, seorang pendeta Budha yang terkenal bernama Bodhidharma (Daruma Daishi) mengembara dari India ke China untuk menyebarkan dan membetulkan agama Budha yang menyimpang selama ini di Kerajaan Liang dibawah Kaisar Wu. Setelah perselisihannya dengan Kaisar Wu karena perbedaan pandangan dalam ajaran agama Budha, Bodhidharma mengasingkan diri di biara Shaolin Tsu di pegunungan Sung di bagian selatan Loyang Ibukota Kerajaan Wei. Di situ lah dia melanjutkan pengajarannya dalam agama Budha dan menjadi cikal-bakal Sekte Zen.

Para Rahib Budha China pada waktu itu begitu lemah badannya, sehingga mereka tidak dapat menjalankan pelajaran-pelajarannya dengan baik. Setelah dia tahu hal ini, dia memberikan Buku Kekuatan Fisik kepada murid-muridnya, suatu buku petunjuk mengenai latihan fisik. Buku ini mengajarkan teknik pukulan yang dinamakan 18 Arhat, yang kemudian menjadi terkenal sebagai Shaolin Chuan. Suatu pendapat lain mengatakan, bahwa cerita di atas tadi adalah dongeng semata-mata. Bagaimanapun juga Bodhidharma adalah anak laki-laki ke-3 (tiga) dari Raja India Selatan. Dan sebagai Pangeran, dia ahli ilmu perang yang menjadi salah satu pendidikannya, hal serupa dengan Sakyamuni. Lagi pula hanya orang dengan pikiran dan badan yang kuat yang dapat mengadakan perjalanan yang demikian jauh dan banyak rintangannya.

Seorang ahli ilmu bela diri lain yang sangat terkenal yang muncul pada jaman Dinasti Sung (920-1279 M) adalah Chang Sang Feng (Thio Sam Hong). Awalnya Chang belajar ilmu bela diri pada Shaolin Tsu, kemudian mengasingkan diri di gunung Wutang (Butong). Di tempat inilah dia mengamati macam-macam gerakan binatang, seperti kera, burung bangau, dan ular. Berdasarkan pengamatannya, dia menciptakan gaya perkelahian yang khas dengan pribadinya yang disebut aliran Wutang. Kalau Shaolin Chuan hanya dipraktekkan oleh para Pendeta Budha, maka aliran Wutang ini diperuntukkan orang awam yang tidak ada ikatan dengan aliran Kuil manapun. Chang mengaja rkan supaya menerima pukulan lawan dengan gaya lemah gemulai seperti air yang mengalir dan menyerang dengan satu kepastian untuk mengakhiri perlawanan dengan sekali pukul. Ciptannya didasari dengan gagasan tentang harus adanya gerak melingkar yang luwes dan gerakan ujung yang tajam. Aliran ini selanjutnya punya dampak yang luas di dalam perkembangan seni bela diri di China. Gaya aliran Wutang ini segera tersebar merata di seluruh Wilayah China bagian utara yang pada masa kemudian akan berkembang menjadi Taichi-Chuan, Hsingi-Chuan, dan Pakua-Chuan.

Masih terdapat banyak tokoh seni bela diri yang menciptakan gaya dan aliran masing-masing. Diantaranya Chueh Yuan yang juga pernah belajar di Shaolin Tsu. Pada tahun 1151-1368 M dia berhasil menciptakan aliran baru dengan cara memperluas 18 pukulan Arhat menjadi 72 jurus. Dia berkeliling ke banyak Wilayah China dan kemudian bertemu dengan Po Yu Feng yang menciptakan pukulan Wu Chuan. Keduanya mengadakan kerjasama menciptakan satu aliran baru yang mencapai 170 macam gaya ilmu pukulan, diantaranya Lima Tinju, Tinju Naga, Tinju Harimau, Tinju Bangau, Tinju Macan Tutul, dan Tinju Ular. Di seluruh Wilayah China yang begitu luas, berbagai macam gaya dan aliran bela diri dikembangkan, yang akhirnya menyesuaikan diri deng an sifat-sifat lingkungan di mana gaya dan aliran itu berkembang dan dipraktekkan. Namun pada umumnya, berbagai aliran dan gaya yang ada dapat dibagi menjadi dua aliran yaitu aliran UTARA dan aliran SELATAN.

Aliran Selatan berasal dari daerah China Selatan di bagian hilir sungai Yang Tse. Karena beriklim sedang, sumber kegiatan ekonomi yang paling utama di wilayah ini adalah pertanian khususnya beras. Rakyat setempat cenderung bertubuh gempal dan kuat karena kegiatan kerja di sawah. Disamping itu di wilayah selatan terdapat banyak sekali sungai, sehingga alat lalu lintas yang utama adalah perahu. Dengan mendayung sehari-hari menyebabkan badan bagian atas lebih berkembang. Maka dengan demikian aliran selatan ini menekankan pada gaya melentur dan penggunaan tangan dan kepala.

Aliran Utara berkembang di wilayah China Utara di bagian hulu Sungai Yang Tse, dimana sifat daerahnya adalah pegunungan. Mengingat di wilayah ini banyak orang terlibat dengan perburuan binatang dan penebangan kayu sebagai sumber nafkah. Maka aliran utara ini lebih menekankan pada gerakan yang lincah dan penggunaan teknik tendangan.

Selama masa peralihan dari Dinasti Ming ke Dinasti Ching, sejumlah ahli bela diri China melarikan diri ke negara lain untuk membebaskan diri dari penindasan dan pembunuhan besar-besaran yang dilakukan oleh orang-orang Manchu yang menguasai China. Sebagai akibatnya ilmu bela diri China dari Jaman Ming ini disebarkan ke berbagai negara lain termasuk ke Jepang, Korea, Asia Tenggara, dan juga Kepulauan Okinawa. Salah seorang diantaranya Chen Yuan Pao yang menuju ke Jepang, dimana dia selanjutnya mengajarkan gagasan dan teknik Judo. Sampai pada abad ke-15 Kepulauan Okinawa terbagi menjadi 3 (tiga) Kerajaan. Dan pada tahun 1470 Youshi Sho dari golongan Sashikianji berhasil mempersatukan semua pulau di Kepulauan Okinawa di bawah kekuasaannya. Penguasa ke-2 dari golongan Sho, yaitu Shin Sho, menyita dan melarang penggunaan senjata tajam. Kemudian Keluarga Shimazu dari Pulau Kyushu berhasil menguasai Kepulauan Okinawa, tetapi larangan terhadap pemilikan senjata tajam masih terus diberlakukan. Sebagai akibatnya, rakyat hanya dapat mengandalkan pada kekuatan dan ketrampilan fisik mereka untuk membela diri.

Pada saat yang sama, ilmu bela diri dari China mulai diperkenalkan di Okinawa melalui para pengungsi yang berdatangan dari China yang saat itu sudah dikuasai oleh bangsa Manchu (Dinasti Ching). Diantara para pengungsi itu ada sejumlah ahli seni bela diri dari China. Pengaruh ilmu bela diri dari China ini dengan cepat sekali menjalar ke seluruh Kepulauan Okinawa. Melalui ketekunan dan kekerasan latihan, rakyat Okinawa berhasil mengembangkan sejenis gaya dan teknik berkelahi yang baru yang akhirnya melampaui sumber aslinya. Aliran-aliran seni bela diri Te (aslinya Tode atau Tote) di Okinawa terbagi menurut nama daerah perkembangannya menjadi Naha-te, Shuri-te, dan Tomari-te. Naha-te mirip dengan seni bela diri China aliran selatan, khususnya dalam pola gerakan yang dilaksanakan dengan gaya yang kokoh dan sangat tepat bagi orang yang bertubuh besar. Shuri-te mirip dengan seni bela diri China aliran utara yang pola gerakannya lebih menekankan kegesitan dan keringanan tubuh. Sementara kaum Shimazu makin memperketat larangan atas pemilikan senjata tajam, latihan pola bela diri Te ini makin berkembang.

Di Jepang sendiri juga telah ada pola bela diri sejak jaman dulu. Diantaranya yang sangat terkenal sampai saat ini ialah gulat Sumo. Dahulu Sumo sifatnya sangat keras dan ganas, dimana para pesertanya diperbolehkan saling pukul dan tenda ng dan secara mental memang sudah siap mati. Baru pada abad ke-8, pukulan dan tendangan yang mematikan tidak diperbolehkan lagi. Pertandingan Sumo kemudian sudah sangat mirip dengan pertandingan Sumo pada masa sekarang ini. Tokoh seni bela diri China yang mengungsi dari penjajahan bangsa Manchu juga tersebar ke seluruh Jepang. Berbagai macam gaya dan teknik yang mereka sebarkan menyebabkan timbulnya aliran-aliran baru. Di bawah pengaruh dan bimbingan Chen Yuan Pao, aliran Jiu Jitsu atau seni beladiri aliran lunak didirikan oleh beberapa tokoh beladiri Jepang. Konsep bahwa "Kelunakan dapat mengalahkan kekerasan" dinyatakan berasal dari China, dan aliran ini mengembangkan pengaruhnya yang penting pada pola bela diri lainnya. Diantaranya yang sangat populer ial ah Judo yang didirikan oleh Jigoro Kano.

Karena keuletannya untuk meneliti, melatih, dan mengembangkan diri, Judo telah berhasil diterima merata di seluruh Jepang sebagai satu cabang olah raga modern. Pada tahun 1923, Gichin Funakoshi yang lahir di Shuri, Okinawa pada tahun 1869 untuk pertama kalinya memperagakan Te atau Okinawa-Te ini di Jepang. Berturut-turut kemudian pada tahun 1929 tokoh-tokoh seperti Kenwa Mabuni, Choyun Miyagi berdatangan dari Okinawa dan menyebarkan karate di Jepang. Kenwa Mabuni menamakan alirannya Shitoryu, Choyun Miyagi menamakan alirannya Gojuryu, dan Gichin Funakoshi menamakan alirannya Shotokan. Okinawa Te ini yang telah dipengaruhi oleh teknik-teknik seni bela diri dari China, sekali lagi berbaur dengan seni bela diri yang sudah ada di Jepang, sehingga mengalami perubahan-perubahan dan berkembang menjadi Karate seperti sekarang ini. Berkat upaya keras dari para tokoh ahli seni bela diri ini selama periode setelah Perang Dunia II, Karate kini telah berkembang pesat ke seluruh dun ia dan menjadi olah raga seni bela diri paling populer di seluruh dunia.

Sejarah Funakoshi tidak bisa dipisahkan dengan sejarah keagungan karate. Dimulai sebagai seorang anak yang lemah, pesakitan dan memiliki kesehatan yang kurang baik, orang tua Funakoshi membawanya kepada maestro beladiri pada saat itu yaitu Yasutsune Itosu untuk mengajarinya karate bersama Yastsune Azato ( Azato memberikan banyak pelajaran kepada Funakoshi untuk membangun pikiran disiplin dan tehnik karate).Dengan dibantu oleh seorang dokter, Tokashiki, yang memberikan ramuan-ramuan alami untuk menguatkan fisiknya, dan latihan yang diberikan oleh Azato dan Itosu, Funakoshi tumbuh menjadi orang yang kuat dan gagah. Dia menjadi murid menonjol ketika menjadi murid Arakaki dan Sokon “Bushi” Matsumura. Dia menguasai dan mencapai taraf yang tinggi dalam kedisiplinan. Maestro Funakoshi selalu menceritakan disetiap kesempatan sejarah hidupnya pada bagian ini. Ketika dia hidup bersama kakek neneknya, dia mulai memasuki sekolah wajib dimana dia sekelas dengan anak guru Azato dan menerima intruksi karate pertama dari Yatsusune (Ankoh) Azato.

Ketika pada akhirnya Funakoshi datang ke Jepang dari Okinawa, tahun 1922, dia tinggal bersama orang-orang sekampung halaman di sebuah asrama mahasiswa di Suidobata, Tokyo. Dia tinggal di dalam kamar yang kecil dekat pintu dan dia akan membersihkan asrama ketika para mahasiswa pergi kuliah. Dia juga bekerja sebagai tukang kebun, dan pada malam hari Funakoshi mengajar karate kepada para mahasiswa.

Dalam jangka waktu yang tidak begitu lama, ia mendirikan sekolah karate pertamanya di Meishojuku. Setelah itu dia mendrikan sekolah karate di Mejiro, dan akhirnya dia memiliki tempat untuk menghasilkan murid generasi penerus karate, seperti, Takagi dan Nakayama dari Nippon Karate Kyokai, Yoshida dari Takudai, Obata dari Keio, Shigeru Egami dari Waseda ( pembawa sukses dalam perkembangan karate ), Hironishi dari Chuo, Noguchi dari Waseda dan Hirori Ohtsuka ( Otsuka ).

Pada saat melakukan perjalanan keliling Jepang untuk mengenalkan dan mengajar karate, Funakoshi selalu mengajak Takeshi Shimoda, Yoshitaka ( anaknya ), Egami dan Ohtsuka untuk menyertainya. Murid utamanya adalah T. Shimoda dan Y. Funakoshi.

Shimoda merupakan lulusan Nen-ryu Kendo School, dia juga berlatih Ninjutsu, tetapi dia sangat tidak beruntung, Dia sakit dan meninggal pada saat masih muda , tahun 1934, setelah melakukan sebuah perjalanan pertunjukan karate. Dia digantikan oleh Gigo ( Yoshitaka) Funakoshi, yang memiliki karakter yang sangat baik dan tehnik karate yang sangat tinggi. Shigeru Egami berpendapat bahwa tidak ada orang yang lebih baik untuk menggantikannya. Dikarenakan jiwa muda dan metode latihan yang keras ( bahkan dapat dikatakan sebagai latihan yang kuat dan brutal ), membuat terjadinya konflik dengan golongan tua. Othsuka Hironori, yang mengatakan tidak dapat menerima latihan yang sangat keras. Akhirnya Otsuka keluar dan mendirikan sekolah karate sesuai dengan gayanya sendiri, yang diberi nama Wado-Ryu ( Jalan keharmonisan ), dan secara nyata nama itu menyindir Yoshitaka. Dalam jangka panjang metode latihan Yoshitaka adalah sangat penting bagi masa depan karate-do. Tetapi, sekali lagi, dia meninggal dalam usia muda, tahun 1945, ketika berumur 39 tahun, penyakit TBC ( Tuberculosis) menghantarkan dia pada kematian.

Pada abad awal abad ke-20, ketika momentum ultra-nasionalis melanda jepang, perkembangan seni beladiri di Jepang mengalami kemunduran, orang yang berlatih beladiri dianggap sebagai penyembah berhala(pagan) dan seni kebrutalan ( savage art). Funakoshi mencoba mengatasi prasangka tersebut, dan akhinya berhasil mendapatkan pengakuan bahwa karate merupakan salah satu seni beladiri Jepang tahun 1941.

Setelah itu banyak pekumpulan karate berdiri di Jepang. Pada tahun 1942, karate diperkenalkan di Universitas Keio sebagai klub karate pertama, yang lainya termasuk Chuo, Waseda (1930), Hosei, Universitas Tokyo (1929). Klub yang lain didirikan di Shichi-Tokudo, di lingkungan tangsi militer di sudut halaman Istana.

Funakoshi mengunjungi Shichin-Tokudo setiap beberapa hari sekali untuk mengajar, ketika Otsuka mengajar di Shichin-Tokudo, seorang murid, Kogura, dari Universitas Keio yang menyandang Dan III ( san-dan ) Kendo ( Seni melidungi diri Jepang/Japanese Fenching ) dan juga penyandang sabuk hitam karate, mengambil pedang dan berhadapan dengan Otsuka. Semua murid melihatnya dan menunggu apa yang akan terjadi. Mereka menyangka dengan kemahirannya dalam kendo, tidak seorang pun yang dapat menghadapinya dengan pedang terbuka (the shinken). Otsuka terlihat tenang melihat Kogura dan pada saat Kogura mengerakkan pedangnya, Otsuka menyapu kakinya dan Kogura jatuh terjerembab. Kejadian ini tidak banyak diceritakan, dan hal ini membuktikan keahlian Otsuka. Kejadian itu juga membuang kejemuan terhadap filosofi Funakoshi bahwa latihan kata/jurus lebih dari sekedar cukup waktu yang dibutuhkan dan juga sangat penting untuk menujukkan kemampuan besar Gichin Funakoshi sebagai guru dan karateka.

Pada tahun 1922, tiga muridnya, Miki, Bo dan Hirayama berpendapat bahwa berlatih kata saja tidak cukup. Mereka mulai mengenalkan pertarungan bebas ( Jiyu Kumite ). Mereka membuat pelindungan badan dan menggunakan pelindung kepala kendo di dalam pertandingan. Funakoshi mendengar tentang penyimpangan ini, dan tidak menghalangi usaha yang dia anggap telah mengurangi arti seni beladiri karate. Funakoshi menghentikan kunjungannya ke Shichin-Tokudo. Baik Funakoshi dan Otsuka tidak pernah terlihat lagi. Setelah kejadian tersebut Gichin Funakoshi melarang adanya pertandingan karate. ( Tidak pernah ada pertandingan karate hingga setelah ia meninggal tahun 1958).

Ketika Funakoshi datang ke Jepang, ia membawa 16 kata, yaitu 5 pinan (heian), 3 naihanchi (Tekki), kushanku-dai (Kanku-dai), kushanku-sho (Kanku-sho), seisan (Hangetsu), patsai (bassai-dai), Wanshu (Empi/Enpi),chinto (Gankaku), jutte (jitte) dan Jion. Dia memberikan muridnya kata dasar sebelum mereka menunjukkan kemajuan yang berarti untuk meningkat ke tingkat lanjutan. Pada saat itu tidak kurang dari 40 kata masuk dalam kurikulum, kemudian dimasukkan dalam edisi terbatas “ Karate-do for specialist” yang merupakan karya monumental dari Shigeru Egami.

Jigoro Kano, penemu seni beladiri Judo moderen, sekali waktu mengundang Funakoshi dan temannya, Makoto Gima, untuk melakukan pertunjukan seni beladiri di Kodokan (Tomisaka). Kira-kira ribuan orang menyaksikan pertunjukan tersebut. Gima yang belajar setelah Yabu Kenstu adalah pemuda dari Okinawa, memainkan kata Naihanshi Shodan, dan Funakoshi memaikan Kata Koshokun ( Kushanku-dai ).

Sensei Kano menyaksikan pertujukan tersebut dan menanyakan tentang tehnik yang terkandung didalamnya. Dia merasa sangat kagum. Dia mengundang Funakoshi dan Gima untuk menghadiri upacara tendon ( makan malam dengan nasi dan ikan-fish and rice dinner), mereka menyanyi dan berkelakar untuk menyenangkan Funakoshi.

Didalam ketulusannya mengajarkan seni beladiri karate yang baik dan benar, Funakoshi bukan tanpa hujatan. Kritik menghina menyangkut ketegasannya dalam aturan mempelajari kata, dan mempelajari apa yang mereka sebut “lembut” karate merupakan hal yang menyia-nyiakan waktu. Funakoshi tegas terhadap aturan hito-kata sanen ( tiga tahun satu kata ).

Funakoshi adalah orang yang rendah hati. Dia mengajari dan mempratekkan apa yang dia katakan dengan kerendahan hati. Dia tidak memberikan nasehat tentang kebajikan dan kerendahan hati, tetapi pada dasarnya kerendahan hati seseorang adalah bersumber pada pandangan yang benar terhadap sesuatu dan hidup penuh dengan kesadaran. Dia hidup dengan damai dengan dirinya dan orang disekelilingnya.

Kapanpun nama Gichin Funakoshi disebutkan, akan mengingatkan kita pada perumpamaan “ A man of Tao (Do) dan “ A little Man”. Dikatakan seorang murid bertanya “ Apa bedanya antara- a man of tao -dengan a little man ?” Guru menjelaskan ,” sederhana sekali, ketika a little man menerima “dan” ( kelulusan atau rangking ), dia tidak akan sabar menunggu untuk pulang kerumah dan naik keatas kemudian mengatakan kepada semua orang bahwa dia telah mendapatkan “dan” pertamanya. Ketika menerima “dan” keduanya, dia akan naik hingga ke ujung tiang dan mengumumkannya kepada semua orang. Ketika menerima “dan” ketiganya, dia melompat di atas mobilnya dan berparade keliling kota sambil membunyikan klakson, memberitahukan kepada semua orang tentang “dan” ketiganya”.

Guru melanjutkan, “ Ketika- a man of Tao-menerima “dan” pertamanya, dia akan menundukan kepalanya sebagai tanda berterima kasih dan bersyukur. Ketika menerima “dan” keduanya, dia akan menundukan kepalanya hingga kebahu. Ketika menerima “dan” ketiganya, dia akan menundukan kepalanya hingga pinggang dan diam-diam dia berjalan disamping dinding sehingga orang tidak dapat melihat dia.

Funakoshi adalah “ a man of Tao”. Dia tidak memiliki keistimewaan apapun dalam sebuah kompetisi, catatan kemenangan, atau kejuaraan. Keistimewaannya terletak pada kepribadiannya.